Berkembang Biaknya Virus HIV di Dunia

Kesehatan merupakan salah satu bidang yang akan menjadi fokus yang paling utama yang ada di dunia ini. Sebab karena ada banyak sekali macam masalah kesehatan yang telah mempengaruhi eksistensi berbagai kalangan masyarakat yang ada di dunia. Ditambah lagi, adanya arus imigran dan juga urbanisasi yang sangat cepat untuk memicu intensitas penyebarannya dan juga penularan penyakit yang tertentu, termasuk juga pada penyakit yang sangat berbahaya seperti HIV.

Di kalangan masyarakat global maupun lokal, penyakit yang satu ini menjadi sebuah biang ketakutan semua orang yang ada di dunia. Penyakit yang satu ini memang hingga saat ini masih belum ada obat untuk menyembuhkannya, namun untuk pencegahannya dapat dilakukan secara sedini mungkin. Sementara itu, ada sekitar lebih dari 70 juta orang yang sudah terinfeksi virus HIV ini dan juga sudah ada lebih dari 35 miliar orang yang sudah meninggal akibat AIDS berdasarkan survei kesehatan yang dilaksanakan oleh WHO pada tahun 2017. Berikut ini pengetahuan mengenai kapan virus ini mulai muncul ? bagaimana asal usul dari HIV dan lain sebagainya yang akan kami ringkas sebaik mungkin.

Apa Virus HIV itu?

Sebagai awal pembahasan, marilah ketahui deskripsi tentang HIV terlebih dahulu. HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem imun tubuh manusia, khususnya sel CD4 atau biasa dikenal sebagai sel T (T cell). Virus ini bekerja secara agresif terhadap sistem imun tubuh.

Padahal, kekuatan dan ketahanan tangkasnet tubuh sangat bergantung pada sistem imun tubuh. Jika sistem imun tubuh terganggu, kekebalan tubuh terhadap bermacam penyakit akan melemah. Hasilnya, tubuh akan mudah diserang infeksi virus, bakteri jahat, dan sumber penyakit lainnya. Pada akhirnya, muncullah penyakit yang disebut AIDS.

Lalu Sekarang Apa itu AIDS?

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah penyakit gangguan imunitas tubuh yang disebabkan oleh virus HIV. Pada penderita AIDS atau ODHA (Orang dengan HIV AIDS), tubuh mereka akan melemah seiring berjalannya waktu. Virus HIV merusak sistem imun tubuh dengan cara menyerang dan membunuh sel T yang terkandung di dalam sel darah putih.

Sel T maupun sel darah putih memiliki fungsi yang amat penting bagi tubuh karena sel tersebut berperan sebagai pelindung tubuh dari infeksi serta pemulihan tubuh (self-healing). Sayangnya, sel tersebut tidak kuat melawan keagresifan virus HIV sehingga tubuh tidak dapat melawan infeksi atau penyakit yang ada. Di samping itu, virus HIV yang agresif tersebut akan memakan sel T untuk memperbanyak diri dan menyebar ke seluruh tubuh. Tubuh ODHA yang mengalami pelemahan akan rentan diserang penyakit, seperti infeksi dan kanker. Akan tetapi, ada treatment atau perawatan terhadap orang-orang yang terjangkit virus HIV ini. Meskipun tidak ada obat untuk HIV atau AIDS, seseorang yang menjalani penanganan medis tertentu secara rutin memiliki potensi hidup yang dapat menjangkau masa hidup orang yang tidak terjangkit AIDS.

Asal Usul Adanya Virus HIV

pembahasan terkait asal-usul virus HIV merupakan pembahasan yang panjang hingga saat ini. Pasalnya, kelompok-kelompok tertentu mulai menaruh keterlibatan geopolitik di dalam isu ini. Tidak ada yang ingin negaranya disalahkan karena telah menjadi tempat penyebaran pandemi AIDS pertama. Namun, kini sejumlah peneliti telah menghasilkan laporan tentang rekam jejak sejarah HIV AIDS.

Diduga Berasal dari Kongo

Sejarah kemunculan pandemik ini berkilas balik pada tahun 1920. Pada tahun tersebut, diyakini bahwa penyebaran HIV muncul pertama kalinya di Kinshasa, sebuah pusat dan kota terbesar Republik Demokratik Kongo. Sebenarnya, virus HIV mulanya terdapat pada hewan. Identifikasi awal yang ditemukan identik dengan HIV adalah sebuah rangkaian virus yang dimiliki simpanse. Virus ini disebut sebagai SIV atau Simian Immunodeficiency Virus. Virus itu menyebar dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lainnya melalui perburuan dan hubungan seksual antar hewan.

Dari Hewan ke Manusia

Selanjutnya, virus SIV menyebar ke manusia ketika perburuan terjadi di Afrika. Simpanse yang memiliki virus mematikan ini dimakan oleh pemburu atau cipratan darah/cairan dari tubuh simpanse masuk ke tubuh pemburu melalui luka. Lalu mulailah terjadinya transmisi virus SIV pertama antara hewan dan manusia.

Awal Penyebaran Virus HIV

Setelah menghinggapi tubuh manusia, virus SIV berevolusi menjadi HIV. Penyebarannya terjadi melalui para imigran dan perdagangan manusia (sex trade). Pada tahun 1960-an, virus HIV menyebar dari Afrika ke Haiti dan orang-orang Kepulauan Karibia. Penyebaran berikutnya terjadi satu dekade setelahnya. Virus HIV berpindah dari Kepulauan Karibia ke New York City pada sekitar 1970, lalu ke San Francisco. Akhirnya, virus HIV pun menyebar ke dunia dari Amerika Serikat lewat penerbangan internasional.

Tidak Langsung Disadari Eksistensinya

Meskipun demikian, mulanya penyakit HIV ini tidak dikenali masyarakat dan tenaga medis. Memang, virus HIV telah menyebar di Amerika Serikat pada tahun 1970-an, namun virus ini baru mulai disadari pada awal tahun 1980-an. Soalnya, virus ini menyerang sistem imun. Sehingga bermacam penyakit yang muncul diperkirakan sebagai akar masalahnya. Apalagi, belum ada konsep penyakit AIDS kala itu.

Kasus pertama yang tercatat pada tahun 1981 oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) berpusat pada kondisi kesehatan buruk yang dialami para pria homoseksual. Para pria tersebut mengalami penurunan imunitas secara drastis dan terkena pneumonia. Setelah itu, muncullah istilah penyakit gangguan sistem imun yang diasosiasikan dengan GRID (gay-related immune deficiency) dan gay plague. Penyakit ini erat kaitannya dengan kaum homoseksual karena kebanyakan penderitanya adalah homoseksual pada saat itu.

Digunakan Sebuah Istilah AIDS

Tada bulan September 1982, barulah CDC menggunakan sebuah istilah AIDS untuk pertama kalinya sebagai pendeskripsian penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. sementara itu, sudah dilaporkan bahwa ada sejumlah kasus yang serupa juga dengan AIDS yang terjadi di negara-negara yang ada di Eropa pada akhir tahun 1982.

Penyebaran Virus HIV

HIV dapat ditemukan didalam cairan tubuh orang yang terinfeksi. Cairan tubuh yang dimaksud adalah cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, darah, dan ASI. Namun, HIV tidak dapat tersebar melalui keringat atau urine. HIV termasuk virus yang rapuh, tidak bisa bertahan lama di luar tubuh manusia. Umumnya, penyebaran virus HIV terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik saat memakai narkoba. Cara penyebaran lainnya termasuk:

  • Penularan dari ibu kepada bayi pada masa kehamilan, pada saat proses melahirkan atau menyusui.
  • Melalui seks oral.
  • Melalui penggunaan alat bantu seks yang dipakai bergantian.
  • Melalui transfusi darah dari orang yang terinfeksi.
  • Memakai jarum, suntikan, dan perlengkapan menyuntik lain yang sudah terkontaminasi.

selain virus mematikan yang sedang ada sekarang ini ternyata masih banyak virus mematikan yang lainnya juga seperti virus HIV ini yang menyerang sistem kekebalan tubuh atau sistem imun pada tubuh manusia yang terkena virus tersebut.

Selain Virus Corona, Ternyata Virus ini Juga Mematikan

Manusia sebenarnya sudah berperang melawan banyak virus dan hal itu sudah terjadi sejak lama sebelum adanya virus Corona yang sedang melanda dunia. Untuk beberapa penyakit yang diakibatkan oleh virus, sudah ada vaksin dan juga obat yang dapat mengatasi infeksi itu, sehingga penularan yang terjadi sudah tidak secara luas. Akan tetapi masih ada vaksin virus yang belum bisa ditemukan hingga sekarang ini, seperti pada virus HIV.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, sejumlah virus yang sudah mulai berpindah dari hewan ke manusia kali ini sudah sangat berhasil memicu wabah yang cukup besar, sampai merenggut banyak nyawa manusia, hal tersebut seperti kita alami saat ini, yaitu virus Corona. Selain itu juga ada beberapa virus yang pernah mewabah di belahan dunia yang juga mematikan sama seperti virus Corona ini berikut ini ada beberapa virus yang juga mematikan sama seperti virus corona bahkan lebih parah.

Virus Marburg

Para ilmuwan mengidentifikasi virus Marburg pada tahun 1967, ketika wabah kecil terjadi di antara para pekerja laboratorium di Jerman yang terpapar monyet-monyet yang terinfeksi yang diimpor dari Uganda. Virus Marburg mirip dengan Ebola karena keduanya dapat menyebabkan demam berdarah. Orang yang terinfeksi akan mengalami demam tinggi dan perdarahan di seluruh tubuh yang dapat menyebabkan syok, kegagalan organ, dan kematian.

Menurut WHO, tingkat kematian dalam wabah pertama adalah 25 persen, tetapi lebih dari 80 persen pada wabah periode 1998 hingga 2000 di Republik Demokratik Kongo, serta pada wabah 2005 di Angola.

Virus Ebola

Wabah Ebola pertama yang diketahui pada manusia menyerang secara serentak di Republik Sudan dan Republik Demokratik Kongo pada tahun 1976. Ebola menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain, atau interaksi dari orang atau hewan yang terinfeksi. Menurut seorang ahli virus Ebola dan profesor mikrobiologi di Universitas Boston, Elke Muhlberger, strain virus Ebola diketahui bervariasi pada dampak kematian. Satu strain, Ebola Reston, bahkan tidak membuat orang sakit. Tetapi untuk strain Bundibugyo, tingkat kematian mencapai 50 persen, dan hingga 71 persen untuk strain Sudan.

Menurut WHO, wabah yang sedang berlangsung di Afrika Barat dimulai pada awal tahun 2014 ini merupakan wabah penyakit terbesar dan paling kompleks hingga sekarang.

HIV

Di dunia modern, virus yang paling mematikan dari semuanya mungkin adalah HIV. Menurut Dr. Amesh Adalja, seorang dokter penyakit menular dan juru bicara untuk Infectious Disease Society of America, HIV masih menjadi pembunuh terbesar.

Diperkirakan 32 juta orang telah meninggal karena HIV sejak penyakit ini pertama kali diakui pada awal tahun 1980-an. Obat antivirus yang kuat memang memungkinkan pasien hidup selama bertahun-tahun dengan HIV. Tetapi penyakit ini terus menghancurkan banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana 95 persen infeksi HIV baru terjadi. Hampir 1 dari setiap 25 orang dewasa di wilayah Afrika positif HIV, terhitung lebih dari dua pertiga dari orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia.

Hantavirus 

Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) pertama kali mendapat perhatian luas di Amerika Serikat pada tahun 1993, ketika seorang lelaki muda yang sehat dan tunangannya meninggal dalam beberapa hari karena sesak napas. Beberapa bulan kemudian, otoritas kesehatan menemukan hantavirus dari tikus rusa yang tinggal di rumah salah satu orang yang terinfeksi. Lebih dari 600 orang di Amerika Serikat telah terinfeksi HPS dan 36 persen telah meninggal karena penyakit ini.

Virus ini tidak ditularkan dari satu orang ke orang lain, melainkan orang yang tertular penyakit ini dari paparan kotoran tikus yang terinfeksi. Menurut sebuah makalah 2010 dalam jurnal Clinical Microbiology Reviews menyebutkan sebelumnya, hantavirus yang berbeda menyebabkan wabah pada awal tahun 1950-an, saat Perang Korea terjadi. Lebih dari 3.000 tentara terinfeksi dan sekitar 12 persen dari mereka tewas.

Demam Berdarah

Virus demam berdarah pertama kali muncul pada tahun 1950-an di Filipina dan Thailand, kemudian menyebar ke seluruh wilayah tropis dan subtropis di dunia. Hingga 40 persen dari populasi dunia sekarang tinggal di daerah-daerah di mana demam berdarah adalah endemik, dan penyakit ini kemungkinan akan menyebar lebih jauh ketika suhu dunia menghangat.

Menurut WHO, demam berdarah menginfeksi 50 hingga 100 juta orang per tahun. Meskipun tingkat kematian untuk demam berdarah lebih rendah dari beberapa virus lain, pada 25 persen, virus dapat menyebabkan penyakit seperti Ebola yang disebut demam berdarah dengue dan kondisi itu memiliki tingkat kematian 20 persen jika tidak diobati. Vaksin untuk demam berdarah disetujui pada 2019 oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat untuk digunakan pada anak-anak berusia 9-16 tahun yang tinggal di daerah di mana demam berdarah biasa terjadi dan dengan riwayat infeksi virus yang dikonfirmasi.

Rotavirus 

Rotavirus dapat menyebar dengan cepat melalui fecal-oral route dan menyebabkan diare parah pada bayi dan anak kecil. Meskipun anak-anak di negara maju jarang meninggal karena infeksi rotavirus, penyakit ini adalah pembunuh di negara berkembang.

WHO memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sebanyak 453 ribu anak-anak di bawah 5 tahun meninggal akibat infeksi rotavirus pada 2008. Namun, negara-negara yang telah memperkenalkan vaksin virus tersebut telah melaporkan penurunan tajam dalam kematian rotavirus.

SARS-CoV

Virus yang menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah atau SARS ini pertama kali muncul pada tahun 2002 di provinsi Guangdong, China selatan. Virus itu awalnya kemungkinan muncul pada kelelawar, kemudian melompat ke mamalia malam seperti musang sebelum akhirnya menginfeksi manusia. Setelah memicu wabah di China, SARS menyebar ke 26 negara di seluruh dunia, menginfeksi lebih dari 8 ribu orang dan menewaskan lebih dari 770 selama dua tahun.

Penyakit ini menyebabkan demam, menggigil dan sakit pada tubuh, dan seringkali berkembang menjadi pneumonia, suatu kondisi parah di mana paru-paru menjadi meradang dan terisi dengan nanah. SARS memiliki angka kematian diperkirakan 9,6 persen, dan sampai sekarang, belum memiliki pengobatan atau vaksin yang disetujui.

SARS-CoV-2

SARS-CoV-2 termasuk dalam keluarga besar virus yang sama dengan SARS-CoV, yang saat ini dikenal sebagai virus Corona (COVID-19), dan pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di kota Wuhan, China. Virus ini kemungkinan berasal dari kelelawar, sama seperti SARS-CoV, dan melewati hewan peralihan sebelum menginfeksi manusia. Sejak kemunculannya, virus Corona telah menginfeksi puluhan ribu orang di China dan ribuan lainnya di seluruh dunia. Wabah yang sedang berlangsung saat ini mengharuskan Wuhan dan kota-kota terdekat melakukan karantina, pembatasan perjalanan ke dan dari negara-negara yang terkena dampak dan upaya di seluruh dunia untuk mengembangkan diagnostik, perawatan, dan vaksin.

Penyakit ini memiliki angka kematian sekitar 2,3 persen. Orang-orang yang lebih tua atau memiliki kondisi kesehatan yang sebelumnya memang bermasalah, tampaknya paling berisiko mengalami penyakit parah atau komplikasi. Gejala umum virus ini mencakup demam, batuk kering dan sesak napas. Penyakit ini juga dapat berkembang menjadi pneumonia pada kasus yang parah.

Fakta Tentang HIV yang Perlu Anda Tahu

Menurut sebuah laporan dari WHO yaitu pada tahun 2014, ternyata terdapat sekitar 36,9 juta orang yang hidup dengan penyakit HIV tersebut. Penyakit ini hingga kini dianggap sebagai sebuah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dalam artikel ini akan dijelaskan beberapa informasi lebih lanjut terhadap kondisi dari penyakit HIV ini.

Human immunodeficiency virus atau (HIV) menyerang kekebalan dari sistem imun Anda. Virus tersebut membuat Anda akan lebih rentan terhadap infeksi dan juga beberapa jenis kanker tertentu. HIV juga dapat ditangani dan juga menjadi sebuah hal yang dapat dikendalikan dengan obat-obatan antivirus, namun hingga kini penyakit yang disebabkan oleh virus ini masih belum ditemukan penyembuhannya. Namun, anda tidak akan terkena HIV jika anda bergaul dengan penderita HIV/AIDS.

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sebuah penyakit disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang dapat sepenuhnya membuat tubuh tidak dapat melawan penyakit dengan cepat, dengan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Virus HIV ini biasanya ditularkan melalui cairan air mani, cairan vagina ataupun darah, dan melakukan hubungan seks bebas dengan pasien yang mengidap penyakit ini. AIDS juga virus yang bisa menyebar dengan cara berbagi alat cukur, jarum, dan juga benda lain yang telah terinfeksi.

Fakta Tentang HIV yang Perlu Anda Tahu

Meskipun AIDS dapat setiap aspek yang ada dari kesejahteraan manusia, yang dapat membuat melemahkan sistem kekebalan tubuh, ada beberapa gejala umum AIDS yang unik untuk diketahui. Penyebabnya adalah sakit perut, sakit tenggorokan, flu, kehilangan nafsu makan, bisul, pembengkakan yang terjadi di daerah genital, diare konstan. Walaupun jarang terjadi, virus ini juga dapat ditularkan melalui:

Darah yang terinfeksi dari luka pada mulut dan juga luka gusi berdarah, seperti melalui berciuman yang “dalam”. Dengan cara menggigit hingga menembus kulit dan juga makan makanan yang sebelumnya telah dikunyah oleh orang yang ternyata positif HIV.
Darah dan juga faktor pembekuan transfusi, serta transplantasi organ dan juga jaringan. Ibu yang terinfeksi dengan HIV dapat menularkan virus ke bayi sebelum ataupun saat persalinan dan dengan cara menyusui. Banyak orang yang takut bahwa kontak fisik atau mencium seseorang yang sedang mengidap HIV dapat membuat mereka jadinya tertular. Padahal, virus HIV yang tidak bisa hidup di kulit dan tidak dapat bertahan lama didalam kondisi luar tubuh.

Kontak kasual, seperti halnya berpegangan tangan, berpelukan, duduk di sebelah orang yang ternyata positif HIV, tidak menyebabkan penularan HIV dapat terjadi. Penting untuk melakukan sebuah hubungan seks yang aman untuk melindungi diri anda dari HIV. Sebagai contoh anda dapat menggunakan kondom saat anda akan berhubungan seks vaginal, anal dan juga oral untuk mengurangi risiko. Ada berbagai macam untuk melindungi diri Anda nantinya dari virus, karena seks bukanlah satu-satunya cara untuk anda dapat terinfeksi HIV. Sebagai pencegahan, dengan menghindari berbagi jarum untuk suntikan, menggunakan jarum yang bersih dan juga lain-lain.

Anda dapat terkena HIV dari seks oral

Seks oral memang tetap dapat menjadi sumber penularan HIV, namun resikonya tergolong rendah. Apabila seseorang yang menerima seks oral dari orang yang memiliki HIV, maka darah air mani atau cairan vaginanya dapat mengandung virus. Apabila seseorang yang melakukan seks orang memiliki HIV, darah dari mulut dapat masuk melalui lapisan uretra (pembukaan yang berada di ujung penis), vagina, serviks, anus atau melalui sebuah luka. Namun ini hanya bisa terjadi jika pemberi seks judi bola online oral memiliki sebuah luka di mulut.

Anda masih bisa punya anak meski positif HIV

Wanita subur yang sudah terinfeksi HIV tetap dapat memiliki anak. Jika ibu dan bayi menggunakan obat antiretroviral, maka wanita positif HIV dapat memiliki bayi yang dapat negatif HIV. Tanpa menggunakan obat, ibu yang nantinya terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut kepada bayi (sebelum atau selama dalam kelahiran) dan dengan cara menyusui. Namun jika ibu dan juga bayi, atau hanya salah satunya, kemudian menggunakan ARV dalam jangka pendek, biasanya nevirapine dan juga AZT, dari angka penularan akan dapat menurun secara signifikan. Perawatan ini tersedia bebas dengan biaya di klinik dan rumah sakit milik pemerintah.

Pengidap HIV masih bisa berumur panjang

Hidup Anda nantinya tidak akan berakhir hanya karena anda positif HIV. Tidak ada penyembuhan atau pun vaksin untuk HIV/AIDS. Namun, sekarang ini sudah tersedia antiretroviral therapy (ART) yang dapat membantu orang yang positif HIV untuk bisa hidup lebih lama dan sehat. Selain itu, telah dikonfirmasi bahwa ART juga dapat mencegah penularan HIV lebih lanjut. Anda juga masih tetap bisa menularkan HIV meski anda sudah minum obat. Obat-obatan antiretroviral ini adalah obat yang akan membantu orang-orang positif HIV, bahkan para pengidap AIDS untuk hidup lebih lama, normal dan juga tetap produktif.

Apabila bekerja dengan baik, obat-obatan ini juga dapat mengurangi jumlah virus yang ada di dalam darah sehingga tidak muncul pada saat tes darah. Namun, penelitian menunjukkan bahwa virus yang masih bisa “bersembunyi” di area lain pada tubuh. Penting untuk tetap melakukan hubungan seksual dengan cara yang aman agar Anda tidak menularkan virus HIV tersebut pada orang lain.

Kebersihan yang buruk dari alat-alat rumah sakit

AIDS juga ternyata menjadi penyakit yang dapat menyebar melalui beberapa instrumen bedah yang sudah terkontaminasi di rumah sakit yang tidak membersihkan peralatan dengan cara yang higienis. Terutama beberapa rumah sakit yang ada di daerah pedesaan, di mana instrumen bedah yang biasanya telah digunakan pada pasien AIDS dan tidak dibersihkan. Jadi, rumah sakit nantinya harus berhati-hati dalam hal kebersihan dan juga keamanan.

Penyakit umum di negara dunia ketiga

Menurut sebuah survei terbaru, lebih dari 36,7 juta orang hidup di dunia ini dengan AIDS. Dan di antara mereka, yaitu lebih dari 1,8 juta adalah anak-anak yang tertular, yang orangtuanya memang menularkan penyakit tersebut kepada mereka. AIDS lebih umum di negara dunia ketiga dan juga beberapa negara berkembang.

HIV di Indonesia

Menurut informasi yang ada dari laman Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Sejak pertama kali dilaporkan di Indonesia yaitu pada tahun 1987 sampai dengan bulan Maret tahun 2019, kasus HIV/AIDS yang sudah dilaporkan yaitu 461 (89,7 persen) dari 514 kabupaten maupun kota yang ada di seluruh Indonesia. Data tersebut menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS yang sekarang ini cenderung meluas.

Data terakhir, di ketahui sampai Maret 2019, jumlah kumulatif dari kasus HIV yang telah dilaporkan adalah sebanyak 338.363, yaitu jumlahnya 58,7 persen dari sebuah estimasi ODHA yang ada di tahun 2016 yaitu sebanyak 640.443. Saat ini terdapat lima provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Indonesia. Yaitu DKI Jakarta sebanyak (60.501 kasus) diikuti dengan Jawa Timur (50.060 kasus), Jawa Barat (35.529 kasus), Jawa Tengah (29,048 kasus), Papua (33.485 kasus).

Demikian itulah beberapa fakta yang harus anda ketahui tentang penyakit HIV. Penyakit HIV memang berbahaya, namun penularanya dapat dicegah dengan menghindari beberapa hal yang telah di sebutkan di atas. Semoga dengan adanya informasi ini dapat menambah wawasan anda mengenai virus HIV.